GAS ALAM, SOLUSI ENERGI BARU UNTUK INDONESIA

Listrik adalah katalis bagi seluruh kehidupan manusia karena hampir semua perangkat di dunia ini sekarang menggunakan listrik. Di saat sebuah wilayah mendapatkan akses listrik, biasanya dalam waktu dekat wilayah itu akan hidup dan akan segera menjadi ramai. Itulah alasan pertumbuhan listrik bisa menjadi indikator pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

 

Hal ini bisa dilihat di Indonesia. Pertumbuhan pendapatan per kapita (GDP) Indonesia yang kini mencapai 6 persen diikuti juga peningkatan kebutuhan listrik yakni sekitar 8 persen. Apabila diterjemahkan dalam bahasa listrik, kebutuhan listrik di Indonesia membutuhkan sekitar 3 gigawatt (GW) per tahun. Hal ini dikatakan oleh Thermal Sales Power and Water General Electric (GE) Energy George Arie W. Djohan. Namun begitu, Indonesia masih kesulitan memenuhi kebutuhan listrik.

 

Rasio electrifikasi Indonesia, terkait dengan peralatan yang menggunakan listrik, hanya berkisar di angka 70 persen. Presentase ini masih kecil dibandingkan negara tetangga. Akan tetapi, George yakin bahwa rasio elekrifikasi Indonesia bisa terus meningkat. “Trennya menunjukkan peningkatan. Menurut data yang saya dapat, total installed base PLN pada tahun 2010 mampu menghasilkan 31 GW dan pada tahun 2011 naik menjadi 35 GW,” ujarnya.

 

Meski mengalami peningkatan setiap tahun, kelistrikan di Indonesia masih belum bisa dikatakan terpenuhi. Hal yang menyedihkan, pada tahun 2014, Indonesia berencana melakukan impor listrik dari Malaysia hingga 50 megawatt (MW) dengan jangka waktu lima tahun. Impor dilakukan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan listrik sembari menunggu penggantian pembangkit listrik bahan bakar minyak ke pembangkit lain yang lebih murah.

 

Solusi
Peningkatan kebutuhan listrik sudah disadari oleh pemerintah dengan mulai melirik ke sumber bahan bakar lain, yakni gas alam. Selama ini, penggunaan gas alam diekspor karena lebih menguntungkan apabila dieskpor. Akan tetapi, kini pemerintah sudah melirik gas alam untuk menggantikan minyak bumi.

 

Account Director Indonesia Turbomachinery GE Oil & Gas Hendra Lesmana mengatakan, kini sudah ada keberpihakan pengguna gas alam ke pasar domestik. Salah satunya adalah perubahan beberapa kontrak jual beli gas yang sempat dilakukan oleh Menteri ESDM Jero Wacik bulan Mei lalu. “Beberapa sumber baru bahkan sudah dialokasikan untuk penggunaan dalam negeri. Fungsinya bukan hanya menjadi pembangkit listrik saja, tetapi juga kebutuhan dalam bentuk raw material,” ujarnya.

 

Lalu, kenapa gas alam? Hendra menjelaskan bahwa selain pengolahannya mahal, Indonesia masih kekurangan oil refinery sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan yang sedemikian besar. Jadi, kini beberapa sumber gas yang dimiliki dimanfaatkan. “Penggunaan gas alam pada dasarnya memiliki fungsi yang sama seperti minyak bumi sebagai penggerak mesin, tetapi gas alam memiliki efesiensi yang lebih tinggi,” ujarnya.

 

Gas alam dianggap lebih efesien karena memiliki pembakaran yang lebih sempurna dan bersih (clean burning) sehingga perawaran mesin menjadi lebih murah. Dengan pembakaran yang bersih, gas alam menjadi lebih ramah lingkungan karena bebas dari logam berat, sulfur dan emosi NOx yang sangat rendah. Jika dilihat dari sisi finansial, gas alam yang langsung dari pipa gas lebih hemat seperempat kali dari harga minyak bumi. Jika sudah berbentuk LNG, lebih murah setengah harga dari minyak bumi.

 

“Dampak yang bisa dirasakan adalah pemerintah dapat mengurangi subsidi minyak, banyak energi jadi lebih murah sehingga menghemat anggaran negara. Selain itu, penggunaan gas sebagai pembangkit listrik sangat responsif terhadap beban dan fleksibel dalam pegoperasiannya sehingga dapat mendukung stabilitas jaringan,” ujar George.

 

Sekadar informasi, cadangan gas alam Indonesia mencapai lima kali cadang minyak bumi Indonesia, yakni yang sudah proven adalah 157,14 trillion standard cubic feet (TSCF) dan bisa dipakai hingga 46 tahun, sedangkan estimasi cadangan yang belum proven mencapai 594,43 TSCF (174 tahun). Potensi gas ini akan semakin besar bila ditambahkan coal bed methane (CBM) berjumlah 453,3 TSCF (133 tahun). Belum lagi ditambahkan shale gas (gas yang berada didalam batuan induk), seperti dilansir Harian Kontan, sebesar 574 TSCF yang mampu dipakai hingga 168 tahun.

 

“Nah, produksi perhari kita saja kalau dimanfaatkan secara penuh, yakni 9336 million metric standard cubic feet per day (MMSCFD), bisa menghasilkan 56 GW. Sudah dua kali lipat dari produksi listrik PLN saat ini,” ujarnya.

 

Salah satu perusahaan yang telah lama berkontribusi untuk memberikan solusi energi terbarukan adalah GE. Perusahaan ini memang terkenal dengan keunggulan dalam hal teknologi pembangkitan. Dari hasil pembangkit listrik PLN yang berjumlah 5 GW menggunakan pembangkit GE.

 

GE memberikan solusi pembangkit listrik tenaga gas melalui dua mesin andalnya, yakni tipe heavy duty dan aeroderivative. Tipe heavy duty memiliki fungsi untuk pekerjaan yang lebih besar, berat dan berukuran lebih besar, sedangkan untuk aeroderivative cocok untuk penggunaan berkala seperti pagi hari menyala, siang hari berhenti. Memang didesain khusus untuk mati-nyala seperti itu,” ujar George.

 

Gas turbin GE telah membantu Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Bisa dilihat penggunaan gas turbin ini mampu menghasilkan listrik dari 15 MW hingga 300 MW per unit. Sebagai simulasi saja, 20 MMSCFD gas dapat menghasilkan 120 MW. “Gas Turbin GE sangat ideal untuk kondisi geografis Indonesia karena memiliki ukuran dari kecil hingga menengah. Selain itu, mesin ini memiliki keandalan, efesiensi, dan responsivitas tinggi. Ini merupakan state of the art of gas turbine technology,” ujarnya.

 

Hendra mengatakan bahwa mesin GE sendiri dilihat sebagai investasi jangka panjang. “Investasi bisa dilihat dari sisi capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) karena tidak gampang rusak dan tidak akan membebani dalam jangka waktu 20 tahun. End user sekarang sudah bisa melihat dengan time frame yang lebih panjang. Diharapkan mesin GE bisa hadir sebagai solusi mengenai kebutuhan listrik di Indonesia karena GE akan tetap focus sebagai pemberi solusi,” ujarnya. (IKLAN/VTO)